Jangan Biarkan Bulan Menangis

Ini cerpenku buat lomba cerpen… tapi kalah kyok e.. hha.. elek. poll.. amatiran.. This story inspired by a true story + changes.. Baca ya..

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Bulan dan bintang pun seolah tak tampak sebab tertutup mendung. Sama seperti Bulan, hatinya mendung. Gadis itu berdiam di balik jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Ia masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi siang dalam perjalanan pulang sekolah. Sama sekali ia tak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya.

Sedari tadi, terus terpikirkan olehnya kejadian itu. Tanpa ia sadari ibunya datang untuk menyuruhnya makan malam.

“Bulan, ayo cepat makan! Ibu sudah menunggumu sedari tadi di ruang makan,” ujar ibunya.

Ia segera tersadar dari lamunannya.

“Iya, Bu.”

Meskipun malas, ia tetap menjawab ucapan ibunya. Ia seperti kehilangan nafsu makannya.

Ibunya melihat keanehan dari sikap dan tatapan Bulan. Bulan tampak amat tidak bersemangat dan tatapannya kosong.

“Kamu kenapa, Nak? Ada masalah apa? Kamu tampak tidak seperti biasanya. Tidak enak badan?”

“Hmm.. tidak, Bu. Bulan tidak apa-apa kok.”

Bulan mencoba untuk merahasiakan apa yang telah dilihat dan dipikirkannya hingga saat ini. Ia tak ingin ibunya menjadi ikut kepikiran akan hal itu.

Hari itu sama seperti biasanya. Ayahnya tidak pulang lagi. Ayahnya bekerja sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan telekomunikasi, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

“Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang?” tanyanya dalam hati. Namun ia segera mengubur dalam-dalam prasangka buruk itu. Ayahnya memang sering tidak pulang ke rumah, tapi yang ia tahu alasan ketidakpulangan ayahnya itu karena lembur. Ia berusaha untuk melupakan hal itu.

Keesokan harinya, Bulan tetap bersekolah seperti biasanya. Ia tak lagi memikirkan apa yang kemarin dilihatnya. Menjadikan itu sebagai angin lalu.

Bulan tetap menjadi yang terbaik. Bulan memang pandai, bahkan boleh dibilang sebagai siswi terpandai di kelasnya. Puluhan kejuaraan pernah ia dapatkan. Mulai perlombaan akademik hingga non akademik pernah ia ikuti. Hasilnyapun tidak pernah mengecewakan. Lulus dengan nilai terbaik dari sebuah sekolah dasar. Kini ia bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama ternama di Surabaya. Hebat.

Namun, apa yang ia dapati sesampainya di rumah?

Praang!!

“Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Punya bukti?” bentak ayahnya kepada ibunya.

“Aku memang tak punya bukti, tapi aku bisa merasakan. Akhir-akhir ini kamu jarang pulang ke rumah. Kemana saja kamu?”

“Kamu tuli, ya? Selama ini aku kan sudah bilang, aku lembur. Banyak tugasku.”

Bulan yang baru saja sampai di rumah tidak berani mendekati kedua orang tuanya yang rupanya sedang bertengkar. Ia yang sudah terlanjur masuk ke dalam rumah segera bersembunyi di balik salah satu sisi almari di ruang tamunya. Namun ia tetap mendengarkan apa yang didebatkan orang tuanya.

“Lembur? Sampai dua hari tidak pulang? Lembur macam apa itu! Bilang saja kalau kamu selingkuh!”

Selingkuh? Ucapan itu mengejutkan Bulan yang sedari tadi mendengarkan perdebatan orang tuanya. Ya, apa yang ia takutkan ternyata benar. Kemarin ia melihat ayahnya sedang bermesraan dengan seorang perempuan asing yang tidak dikenalnya di sebuah café di dekat sekolahnya. Dan apa yang ia duga dan pikirkan itu benar. Ternyata ibunya telah lebih dulu mengetahui.

“Oke. Aku mengaku kalau aku selingkuh. Sudah. Kebanyakan bacot kamu! Kalau kau tak suka, ya sudah. Pergi saja dari rumah ini!”

“Enak saja kamu kalau bicara! Ini rumahku juga! Selama ini aku selalu mendampingi kamu, tapi sekarang kamu dengan gampangnya mengusir aku! Bagaimana dengan anakmu? Bagaimana dengan masa depannya?”

“Bulan tetap menjadi tanggung jawabku. Tapi kau, aku sudah muak denganmu! Pergi!”

Ibunya menangis mendengar perkataan ayah Bulan. Begitupun dengan Bulan, ia amat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari tempat persembunyiannya.

Setelah perdebatan itu, ayahnya keluar rumah dan pergi meninggalkan ibunya yang menangis tersedu-sedu di ruang keluarga, tempat terjadinya perdebatan itu.

Melihat ayahnya telah pergi, Bulan segera menghampiri ibunya yang terduduk dan terpuruk. Ibunya terkejut melihat kedatangan Bulan. Ia segera menghapus air mata di pipinya.

“Kamu sudah pulang, Nak?”

“Iya, Bu.”

“Bu, benarkah ayah mengusir kita dari rumah ini?”

“Tidak, Bulan. Ayah hanya mengusir ibu. Sebaiknya kamu tetap di sini.”

“Tidak, Bu. Bulan ikut ibu saja.”

“Tapi, Nak, jika kamu hidup bersama ibu, hidupmu akan sengsara. Kamu tahu sendiri kan, Ibu tidak bekerja. Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Sudahlah, Bu. Ibu tenang saja. Kita cari tempat kost saja di kota ini. Uang tabungan Bulan masih ada kok, Bu.”

Mereka berdua segera membereskan semua barang-barang yang dibawa. Dengan berat hati mereka meninggalkan rumah itu. Semua kenangan indah di rumah itu seakan sirna karena kejadian di hari itu.

Syukurlah. Di hari itu juga mereka menemukan sebuah kamar kost di dekat sekolah Bulan setelah berkeliling untuk mencari kost begitu lamanya.

Bulan tetap bersekolah seperti biasa setelah kejadian tersebut. Ia menutupi kesedihannya dengan berkas senyum-senyumnya. Ia tak ingin ada satupun orang yang mengerti akan peristiwa yang telah dialaminya.

Namun, ia paling kesal jika ada temannya yang mengajak untuk bekerja kelompok di rumah Bulan. Bagaimana tidak, ia sudah tidak tinggal di rumahnya itu. Ia paling sulit mengelak dari ajakan seperti itu. Bingung akan jawaban yang harus ia katakan.

Setiap malam, Bulan selalu memikirkan setiap kejadian dalam hidupnya. Ia tak habis pikir, mengapa ayahnya begitu tega menduakan ibunya yang amat mencintai ayahnya. Bulan mengadu kepada bulan apa yang sedang ia rasakan dari balik jendela kamar kostnya. Tanpa sepengetahuan ibunya. Karena ia tahu, pasti ibunya akan ikut sedih bila mengetahui apa yang sedang ia rasakan.

“Bulan, tahukah kamu bagaimana perasaanku sekarang? Aku benar-benar bingung. Mengapa ayah begitu tega melakukan hal itu kepada ibuku? Tak lagikah ayah peduli dengan ibuku, dengan aku?” Bulan bertanya kepada bulan.

Hanya kepada hiasan angkasa itulah ia berkeluh kesah. Ia tak berani menceritakan kepada orang lain. Semenjak kejadian itu, ia menjadi benci terhadap ayahnya. Semua kenangan manis bersama ayahnya seolah telah sirna dalam ingatannya.

Uang persediaan Bulan dan ibunya semakin menipis. Ya, ibunya tidak bekerja. Dari mana mereka bisa mendapatkan uang untuk kebutuhannya sehari-hari? Ibunya bingung, mencoba untuk mencari kerja. Tetapi, sulit mendapatkan pekerjaan di usianya yang tak muda lagi. Syukurlah, pada akhirnya ibunya mendapatkan pekerjaan. Sebagai pembuat roti di perusahaan roti ternama. Bulan juga membantu ibunya dalam mencari nafkah dengan cara menjual sebagian roti-roti buatan ibunya di sekolahnya.

Semenjak adanya pengusiran itu, nilai-nilai Bulan di kelas turun dan sikapnya pun mulai berubah. Ia yang dulunya periang, menjadi suka menyendiri. Bulan menyadari itu semua sebagai akibat atas kejenuhan dalam memikirkan kemalangannya. Ia menangis. Semakin terpuruk. Namun bagaimana? Haruskah ia mengabaikan segala kejadian yang telah dialaminya?

Setiap kali ia melihat temannya dijemput oleh ayahnya, Bulan selalu merasa iri. Ingin rasanya ia menangis. Selama ini, ia tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Perhatian dari satu sisi saja tidak cukup bagi Bulan.

Berbulan-bulan Bulan dan ibunya hidup berdua di kamar kost yang sempit itu. Mereka mencoba untuk tidak berkeluh kesah. Dengan segala keterbatasan dan kesengsaraan, mereka mencoba untuk hidup seperti sedia kala. Tanpa memikirkan ayahnya lagi.

Syukurlah, perlahan hidup Bulan dan ibunya kunjung membaik. Mereka bisa hidup di rumah kontrakan, tak lagi sebuah kamar kost. Semua itu berkat kegigihan dan perjuangan ibunya. Untuk sekolahpun, Bulan mendapatkan keringanan dari pihak sekolah.

Ayahnya seperti benar-benar menghilang dari kehidupan Bulan. Sama sekali tidak memberi kabar dan menafkahi Bulan dan ibunya. Sangat berbeda dengan ucapannya ketika mengusir istrinya. Perlahan, semua kekesalan dan kebencian yang ia rasakan mulai sirna. Tak ada lagi ingatan tentang ayahnya yang biadab itu. Hingga pada suatu hari ketika Bulan pulang sekolah…

“Bulan, benar itu kamu, Nak?”

Suara lelaki itu menghentikan langkah Bulan ke sekolah. Terdengar langkah mendekat. Segera Bulan berbalik badan memandangi arah suara itu berasal. Ia mendapati wajah lelaki yang nyaris terlupakan olehnya.

“Ayah?” ia terkejut menatap lelaki itu.

“Iya, Bulan. Ini Ayah.”

“Ayah benar-benar keterlaluan! Aku benci ayah!”

“Bulan, maafkan Ayah! Ayah minta maaf Bulan.”

“Untuk apa Ayah kembali? Saat semuanya sudah nyaris terlupakan olehku?”

“Ayah cuma kangen sama Bulan. Bulan, lebih baik kamu hidup bersama Ayah. Hidupmu pasti tak akan  sengsara. Ayo, Bulan!”

Air mata Bulan mulai menetes. Membasahi pipi merahnya.

“Tidak. Aku lebih bahagia dan tenang bersama Ibu. Lebih baik, Ayah tidak usah mengganggu hidupku dan Ibu lagi.”

Kemudian, Bulan berlari meninggalkan ayahnya. Berusaha melupakan kejadian itu.

Ia mempercepat langkah kakinya. Cepat. Lebih cepat. Seakan ingin mengejar matahari.

Dengan penuh semangat dan tekad, Bulan dan ibunya meneruskan perjalanan hidupnya. Mereka percaya, semua kebahagiaan yang telah terenggut itu pasti kembali. Semuanya akan indah pada waktunya.

ELEK YOO??

About nadyaaydan

Just an acceleration student.. who has many dreams to be the best... Nadya = Book-a-holic = pencinta buku

Posted on April 2, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. oh,aku tau kok maksudnya ini😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: