CERPEN ‘ UNTUK PURNOMO ‘

Kemarin kemarin juga nih, aku dapet tugas bikin cerpen. ini nih aku share🙂 baca yaps . .

oyaa, JANGAN LUPA CANTUMIN NAMA AKU KALO MAU COPAS, AWAS KALO GAK !

 

UNTUK PURNOMO ~ DUCHA NADYA HAPSARI

Hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya bagi Purnomo. Ia masih berharap ada secercah harapan yang mampu menguatkan langkahnya untuk tetap bersekolah. Ya, krisis ekonomi yang menghimpit keluarganya hampir saja menggoyahkannya. Semenjak ayahnya meninggalkannya dan ibunya karena penyakit stroke, barangkali itulah yang membuat hari-harinya semakin sengsara. Pur, sebagaimana ia biasa dipanggil bisa disebut sebagai seorang pelajar sekolah menengah pertama di kotanya yang memiliki prestasi yang baik di kelasnya. Hanya saja, hal-hal yang sudah diulas di atas, telah mengusik semangatnya.

“Pur, ati-ati, Le. Aja ndablek, dadi bocah kudu pinter,” ucap seorang wanita paruh baya yang ternyata merupakan ibu Pur.

“Nggih, Bu,” jawab Pur sembari mencium tangan ibu kesayangannya tersebut dan mulai melangkah menjauhi rumahnya.

Ibu Pur adalah seorang janda miskin yang sama seperti putranya, patut disanjung dan diacungi jempol karena beliau tak pernah mengeluh sedikitpun dalam mengasuh Purnomo. Padahal seringkali upah yang beliau dapat dari berjualan kue yang dititipkan ke warung-warung di dekat rumahnya tidak cukup untuk membiayai semua kebutuhannya, belum lagi untuk membayar sekolah Pur.

Di sekolah, Pur memang bukan anak yang memiliki banyak teman karena sikapnya yang dingin dan pendiam. Namun ia cukup dikenal oleh guru-gurunya. Ia terkenal seperti itu karena ia telah berulang kali bolak-balik ke ruang kepala sekolahnya untuk meminta keringanan dalam membayar biaya sekolahnya. Namun tetap saja, pihak sekolah masih belum menyanggupinya. Entahlah.

Meski pendiam, Pur bukan anak yang dibenci teman-temannya namun Pur terlihat selalu menghindar dari teman sekelasnya yang bernama Guntur, anak salah satu petinggi di sekolahnya yang selalu tercukupi segala kebutuhannya. Dulu memang pernah terjadi konflik antara Gun dan Pur. Gun dulu pernah menjadi bendahara di kelasnya, sewaktu itu ia sedang meminta teman-temannya untuk membayar iuran kas kelas yang wajib dibayar seminggu sekali. Sejak awal tahun pelajaran hingga saat itu, Pur tidak membayar kewajiban itu. Hingga akhirnya Gun sebal atas sikap Pur dan menegurnya.

“Hei, sampeyan iku kenapa, gak gelem mbayar iuran kas? Padahal bocah-bocah liyane mesti bayar tepat waktu. Dadi wong aja pelit, Pur!” kata-kata Gun ini selalu membekas di pikiran dan hati Pur. Ditegur seperti itu, ia hanya bisa diam dan menunduk. Tak berani mengungkap apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya Pur tak mampu membayar iuran kas kelas tersebut. Padahal selama berminggu-minggu, Pur tidak membawa uang sama sekali karena ibunya tak mampu memberinya uang saku. Barangkali itulah yang menyebabkan Pur takut apabila bertemu dengan Gun.

Hingga saat ini, Gun dan Pur tak pernah bertegur sapa. Sebetulnya, Gun ingin sekali bisa berteman baik dengan Pur. Ia juga menyadari jika perkataannya dulu ke Pur telah menyakiti hati Pur.

Akhirnya di suatu siang ketika jam istirahat, Gun memberanikan diri untuk menyapa Pur yang duduk di bangku pojok belakang di kelasnya.

“Pur, sepurane aku biyen negur sampeyan. Sampeyan gelem kan nyepurani aku?” ucap Gun sembari mengulurkan tangannya kepada Pur.

Pur menerima tangan itu dan menjabatnya, “Sampeyan ora salah apa-apa, aku sing salah ora mbayar iuran kas.”

Pada akhirnya, mereka bermaaf-maafan. Gun kemudian mengajaknya ke kantin sekolahnya. Namun Pur menolak karena tak membawa uang.

“Pur, sampeyan biyen kenapa ora bayar kas?”

“A..a..aku ora tau sangu, Gun.”

“Oalah. Ya Allah, sepurane, Pur. Sepurane. Aku ora ngerti yen sampeyan ora sangu.”

Mereka berbincang-bincang dan terlihat sangat akrab. Padahal sebelumnya Pur tak pernah seakrab ini dengan teman-temannya. Pur berbagi cerita tentang kehidupannya yang serba terbatas dan ketidakmampuannya untuk membayar sekolah selama beberapa bulan. Ia juga bercerita tentang pihak sekolah yang tidak mau menyanggupi permohonannya.

Tanpa sepengetahuan Pur, Gun ternyata memberitahukan semua tentang Pur kepada ayahnya. Ia juga memohon-mohon kepada ayahnya agar mau membantu Pur dengan memberinya keringanan.

Beberapa hari setelah itu, Pur dipanggil ke ruang kepala sekolah. Semula ia merasa takut apabila dikenai teguran karena tidak membayar uang sekolah. Ia meminta Guntur untuk menemaninya ke ruang kepala sekolah.

“Pur, mohon maaf pihak sekolah baru memanggilmu sekarang. Tapi kami akan menyampaikan berita baik untuk kamu,” ucap kepala sekolahnya ketika Pur memasuki ruangannya.

“Silahkan duduk. Beberapa waktu lalu kamu memohon keringanan dalam membayar biaya sekolah. Sekarang pihak sekolah akan menyanggupinya. Kamu tidak perlu membayar sekolah sepeserpun, Pur. Selamat ya,” ucap kepala sekolah sembari menjabat tangan Pur.

“B..b..benar, Pak? Saya tidak perlu  membayar sepeserpun? Te..te..terima kasih, Pak,” Pur tersenyum bahagia mendengar dengan semua ini.

Kemudian ia keluar dari ruang kepala sekolah, Gun yang menunggunya di depan pintu kepala sekolah langsung ia peluk. Pur terlihat bahagia sekali. Gun juga.

“Gun, permohonanku dituruti pihak sekolah.”

“Aku melu seneng, Pur. Selamet yo!” ujar Gun sambil merangkul sahabat barunya itu ketika menuju ke kelas.

Dalam hati Gun berkata, “Selamat, Pur. Aku ikut bahagia jika kamu bahagia. Semua yang telah aku lakukan hanya untuk Purnomo, sahabat baruku yang sudah mengajariku tentang arti kehidupan.”

 

*~~~*

 

About nadyaaydan

Just an acceleration student.. who has many dreams to be the best... Nadya = Book-a-holic = pencinta buku

Posted on Januari 20, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: